PERKEMBANGAN TEKNOLOGI INFORMASIDAN PENDIDIKAN
A.
PENDAHULUAN
Teknologi dikembangkan secara
terus-menerus untuk mempermudah manusia dalam seluruh aspek dan bidang
kehidupannya. Perkembangan teknologi berlangsung kian pesat bersamaan dengan
pesatnya penemuan dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang
berlangsung sebelum 2000-an,seperti penemuan telepon oleh Antonio Mecci pada
1875, berlanjut dengan penemuan berbagai alat-alat yang mendukung perkembangan
teknologi informasi, baik yang berupa system komunikasi dengan alat komunikasi
searah maupun dua arah (interaktif).
Penggunaan internet (internet-based technology) yang telah menjadi kebutuhan
sehari-hari, yang mewarnai kehidupan manusia akhir-akhir ini, merupakan capaian
dibidang TIK. Kesadaran masyarakat atas penggunaan TIK dibuktikan dengan
kecenderungan penggunaan simbol ‘e’ yang diartikan sebagai elektronik dan
diaplikasikan hampir disemua bidange-commerce,
e-budgetting, e-government,
termasuk dibidang pedidikan, seperti e-education,
e-libarary, e-learning, e-school,dan lain-lain. Perkembangan dan
implementasi TIK telah mempengaruhi dunia pendidikan baik dari segi manajemen
dan terutama pembelajarannya.
Tulisan ini menguraikan penerapan TIK
yang melahirkan inovasi-inovasi dalam pendidikan, berbagai isu dan permasalahan
yang dihadapi, termasuk perkembangan TIK secara historis di Indonesia yang
diuraikan terlebih dahulu.
B.
PEMBAHASAN
Pengertian Teknologi Informasi Komunikasi
Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) mempunyai pengertian dari dua aspek, yaitu Teknologi Informasi
dan Teknologi Komunikasi. Teknologi Informasi Menurut Bambang Warsita (2008)
Teknologi Informasi adalah sarana dan prasarana (hardware, software, useware)
sistem dan metode untuk memperoleh, mengirimkan, mengolah, menafsirkan,
menyimpan, mengorganisasikan dan menggunakan data secara bermakna. Teknologi
informasi mempunyai pengertian luas yang meliputi segala hal yang berkaitan
dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan
informasi. Teknologi Komunikasi mempunyai pengertian segala hal yang berkaitan
dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari
perangkat yang satu kelainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Komunikasi
adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang mengandung pengertian luas
tentang segala aspek yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan,
dan transfer/pemindahan informasi antar media menggunakan teknologi tertentu.
Secara singkat, TIKdapat diartikan
sebagai perangkat teknologi yang digunakan dalam pengolahan data, penyusunan,
penyimpanan, serta manipulasi data melalui berbagai cara untuk memproses dan
menyampaikan informasi yang berkualitas. TIK menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan
tinggi untuk data, suara, dan video.Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya
berupa computer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga
elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel).Pengolahan penyimpanan
dan penyebaran vocal, informasi bergambar, teks dan numerik oleh
mikroelektronika berbasis kombinasi komputerisasi dan telekomunikasi.Istilah
dalam pengertian modern pertama kali muncul dalam sebuah artikel 1958 yang
diterbitkan dalam Harvard Business Review, dimana penulis Leavitt dan Whister
berkomentar bahwa “teknologi baru belum memiliki nama tunggal yang
didirikan.Kita akan menyebutnya teknologi informasi (TI)”.Beberapa bidang
modern dan muncul setelah teknologi informasi adalah generasi berikutnya yakni
teknologi web, bioinformatika, “Could Computing”, sistem informasi global,
skala besar basis pengetahuan, dan lain–lain.
Berbagai teknologi masa kini dikembangkan
berbasis TIK yang menyebabkan sebagian besar manusia telah menganggap TIK
sebagai kebutuhan mendasar dan bagian hidupnya.Dampak TIKnampak secara
signifikan dalam berbagai kehidupan manusia, terutama dibidang informasi dan
komunikasi.TIK memberikan kemudahan aktivitas komunikasi dan menjadikan segala
hal menjadi instan.Proses penyampaian dan penerimaan pesan menjadi lebih cepat
dan mudah. Setiap indiividu dapat mengakses berbagai informasi yang dibutuhkan
dengan mudah dan saling bertukar informasi dan berkomunikasi satu dengan
lainnya dalam jarak yang berjauhan secara cepat dan efisien.Dalam dunia bisnis,
TIK dapat membantu mengurangi dan menghemat biaya pemasaran, misalnya dengan
adanya e-commerce yang mengubah pola
bisnis dunia dan memberikan peluang pelaku usaha memperluas usahanya dengan
mudah dan modal yang relatif jauh lebih murah.Perkembangan TIK juga
meningkatkan peluang dan diversifikasi karir bagi masyarakat luas. Adanya trend
jejaring sosial, situs web dan berbagai aplikasi memunculkan profesi baru
seperti user-interface designer, yang
bekerja merancang tampilan visual, atau manajer social media yang berfungsi
menciptakan image/citra diri yang positif. Demikian halnya dalam dunia
pendidikan, eksistensi TIK tidak dapat dielakkan, TIK bahkan telah memainkan
peran cukup strategis baik khsuusnya dalam hal inovasi pembelajaran, misalnya
penerapan e-learning atau sistem
pembelajaran multimedia berbasis TIK yang memenuhi tuntutan perkembanagan serta
kebutuhan dan karakter peserta didik.
Perkembangan Teknologi TIK di Indonesia
Perkembangan teknologi TIK di Indonesia
bertonggak dari peluncuran Satelit Palapa pada 9 Juli 1976 yang memudahkan arus
komunikasi dan teknologi.Setelah itu dilanjutkan
dengan perkembangan jaringan sellular, yaitu GSM pertama di Indonesia, yakni
sebuah komunikasi bergerak yang tergolong dalam generasi kedua.
Sejarah perkembangan
teknologi di Indonesia terutama pengenlaan awal yang terjadi sekitar
1970-1972-an melibatkan perguruan tinggi yakni Fakultas Ilmu Komputer
Pendidikan Indonesia (UI), sebagai salah satu perguruan tinggi pelopor
pengenalan teknologi dengan menerapkan kegiatan operasional komputasi khususnya
di lingkungan PUSLIKOM UI pada 1972-1975. Pada ssat yang sama, UI mengirim dua
orang staf PUSLIKOM ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi tentang komputer
disusul empat orang lainnya pada 1975-1986. Pada 1984, beberapa jaringan
teknologi informasi di Indonesia mulai terhubung ke internet melalui jaringan
UI-net.Jaringan internet Indonesia pada saat itu berjalan di atas protokol UUC,
sedangkan umumnya menggunakan TCP/IP.Domain .id sudah muncul dan diakui pada
tahun ini.
Mulai 1986 hingga 1993
PUSLIKOM UI ditunjuk Depdikbud sebagai salah satu Pusat Antar Universitas (PAU)
dalam bidang komputer. Implkasinya, terbentuk jaringan yang menghubungkan
kampus- kampus besar Indonesia, mulai UI, ITB, UGM, ITS, UNHAS, Universitas
Terbuka dan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Depdikbud. Jaringan besar ini
disebut UNINET. Jaringan yang dibuat dengan bantuan dari luar negeri ini
menggunakan infrastruktur jaringan telepon kabel konvensional, SKDP milik PT
Indosat, serta SKDP via satelit (pack satnet).
Ada 4 buah server yang dibuat dan ditempatkan di lokasi ITB, UI, UGM, dan ITS.
Sebagai negara berkembang,
Indonesia memiliki perhatian besar terhadap penggunaan TIKyang diyakini dapat meningkatkan
daya kompetisi bangsa.Keputusan Presiden No 50 Tahun 2000 tentang pembentukan
Team Telematika Indonesia merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam
pengembangan dan penggunaan TIK.Team yang terdiri atas Menteri Kabinet termasuk
Menteri Pendidikan ini bertugas menyusun kebijakan dalam bidang telematika,
memutuskan fase dan prioritas pembangunan bidang telematika dan penggunaannya
di Indonesia, melakukan monitoring dan kontrol implementasi teknologi
telematika di Indonesia, dan melaporkan pembangunan telematika di Indonesia
kepada presiden.
Sangat disadari bahwa
keberhasilan pembangunan dan penerapan teknologi TIK sangat ditentukan oleh ketersediaan
sarana infrastuktur memuat penyediaan akses yang mudah, jaminan ketersediaan
informasi dan subjek.Untuk memenuhi ketiga aspek ini, maka sumber daya manusia
yang berkualifikasi sangat memerlukan perhatian prioritas dan menjadi kebutuhan
utama. Meskipun demikian,jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang
lainnya, bahkan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand
dan lainnya, teknologi dan penggunaan TIKsecara umum masih tergolong tertinggal.
Pemanfaatan TIK Bidang Pendidikan.
Pengaruh implemetasi
teknologi TIKtidak hanya menyentuh dunia industri dan bisnis, melainkan
lebih-lebih dunia pendidikan.Menilik sejarah era awal perkembangan dan
penggunaan TIK, peran perguruan tinggi justru sangat dominan.Untuk mendukung
pembanguan bidang pendidikan, pemerinah melalui Tim Telematika yang diketuai
dan dikoordinir oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara melalui Surat
Keputusan No. 133/M.PAN/5/2001 menetapkan Rencana Aksi Lima Tahun Pengembangan
dan Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi di Indonesia. Rencana aksi
tersebut memuat Perencanaan Implemetasi Penggunaan Telematika dibidang
pendidikan periode 2001 sampai dengan 2005, terdiri atas:
1. Membangun kolaborasi antara
industri TIK dengan institusi pendidikan melalui pelatihan dan kolaborasi
penelitian dan pengembangan (research and
development), dan menemukan kerjasama bagi pengembangan keterampilan dan
kapasitas,
2. Mengembangkan dan
mengimplementasikan kurikulum TIK,
3. Memanfaatkan TIK sebagai
bagian esensial dari kurikulum dan media pembelajaran di sekolah, perguruan
tinggi, dan lembaga pelatihan,
4. Melaksanakan program
belajar jarak jauh melipti partisipasi dalam pengembangan belajar dan jaringan,
5. Memfasilitasi penggunaan
internet secara lebih efisien dalam proses belajar mengajar.
Berdasarkan rencana aksi
tersebut, dapat diketahui bahwa program pengebangan dan implementasi TIK
ditekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya yang terkait
dengan penyediaan dan perluasan pendidikan sumber daya manusia bidang TIKyang
mampu bersaing dalam dunia global.
Pemanfaatan teknologi TIKdalam
dunia pendidikan salah satunya melalui pencanangan Program Pembelajaran Berbasis
TIK oleh Depdiknas pada 1999. Program TIKdi Depdiknas dimulai melalui program:
·
Jaringan Internet (Jarnet), tahun 2000
·
Jaringan Informasi Sekolah (JIS), tahun 2001-2002
·
Wide Area Network Kota (WAN Kota), tahun 2002-2003
·
Information and Communication Technology Center (TIK Center),
tahun 2004-2006
·
Indonesia Higher Education
Network
(Inherent), tahun 2006-2007
·
Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas), tahun 2006-2008
·
South East Asian Education
Network (SEA
EduNet), tahun 2008
Pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran dilakukan melalui berbagai upaya, sebagai berikut:
1. E-learning
Semenjak 2002, Pusat Teknologi Informasi dan
Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan
Menengah dan Direktorat Pendidikan Tinggi mengembangkan sebuah program yang
disebut ‘e-dukasi’.Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan pada jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi melalui
pemanfaatan TIK. Disamping kedua direktorat, pusat Pustekkom juga memperoleh
sokongan PT Telkom, Kantor Research dan Aplikasi Teknologi, Asosiasi Penyedia
Layananan Internet Indonesia, Jaringan Informasi Sekolah, Detic.com, dan TIK
Watch.
Pada tahap awal, materi pembelajaran dikembangkan
untuk beberapa subjek seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Elektronik,
dan Teknologi Informasi.
2. Perkuliahan online (Online courses)
Beberapa perguruan tinggi menyediakan perkuliahan
berbasis internet, diawal penerapannya salah satunya adalah Universitas Kristen
Petra Surabaya.
3. Tutorial online (Online tutorials)
Salah satu penggunaan TIK di perguruan tinggi,
khsuusnya yang melaksanakan program belajar jarak jauh, adalah untuk aktivitas
tutorial.Sebagaimana dilakukan oleh, salah satunya, Universitas Terbuka
Indonesia.
4. Kerjasama penelitian (Joint research)
TIK merupakan media yang mampu memfasilitasi
kolaborasi sehingga joint research dapat dilakukan. Salah satu bentuk
kolaborasi penelitian (joint research)
bidang implementasi TIK adalah yang melibatkan perguruan tinggi yang terdiri
atas Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajad
Mada, dan Universitas Diponegoro.
5. Perpustakaan elektronik (Electronic library)
Saat ini, telah berkembang dan diterapkan jaringan
perpustakaan elektronik (Digital Library)
oleh baik Perpustakaan Pusat maupun
Perpustakaan Program Pascasarjana berbagai perguruan tinggi di indonesia
yang memberikan kemudahan akses ilmu pengetahuan dan informasi yang dibutuhkan
oleh mahasiswa. Perpustakaan digital pertama kali diterapkan oleh ITB, Projek
Pengembangan Perguruan Tinggi Indonesia Timur Tenggara (Eastern Indonesia Universities Development Project/ the CIDA Project),
Universitas Brawijaya MalangUniversitas Muhammadiyah Malang, IAIN Jakarta atas
dukungan McGill University Canada dan Pusat Bank Data LIPI Jakarta.
Jaringan Perpustakaan Digital Indonesia dimaksudkan
untuk mendukung upaya peningkatan kualitas output/lulusan perguruan tinggi,
meningkatkan sharing informasi antar perguruan tinggi dan institusi research di
Indonesia.
6. Pembelajaran berbasis
komputer (Computer assisted instruction)
Pembelajaran berbasis computer merupakan program
pembelajaran bersifat off-line sehingga dengan sistem ini, akses internet tidak
dibutuhkan.Pustekkom telah mengembangkan materi pembelajaran berbasis computer
untuk berbagai subjek.Pembelajaran tersebut bersifat interaktif dimana peserta
didik mampu belajar secara mandiri dengan sedikit mungkin bantuan dari
guru/dosen.
7. Penggunaan siaran radio dan
televise dalam bidang pendidikan
Ada tiga pendekatan umum pada penggunaan radio dan
televise dalam bidang pendidikan: (1) pengajaran langsung, dimana program
siaran mengganti guru yang bersifat temporer; (2) penyiaran sekolah, dimana
program penyiaran memberikan/menyediakan sumber-sumber pengajaran dan pembelajaran;
da (3) program pendidikan umum pada stasiun lokal, nasionall dan internasional
yang menyediakan/memberikan kesempatan pendidikan informal.
Interactive Radio Instruction (IRI) merupakan contoh
pengajaran kelas langsung yang berdurasi selama 20-30 menit, termasuk latihan
pembelajaran di kelas yang dilakukan setiap hari.Pelajaran melalui
radio, yang dikembangkan seputar tujuan pembelajaran khusus ilmu matematika,
pengetahuan, kesehatan dan bahasa menurut kurikulum nasional dimaksudkan
untuk memperbaiki kualitas pengajran kelas dan berperan sebagai bantuan reguler
dan terstruktur pada guru yang sangat minim dengan pelatihan dan sumber-sumber
yang sangat kurang memadai”. Projek IRI diimplementasikan di Amerika Latin dan
Afrika. Di Asia, IRI pertama kali diimplementasikan di Thailand pada tahun
1980; di Indonesia, Pakistan, Banglades dan Nepal pada tahun 1990an.Riset
ektensif di seluruh dunia menunjukkan bahwa projek IRI berdampak positif pada
hasil pembelajaran dan pemerataan pendidikan.
Telesecundaria di Meksiko merupakan contoh
lain pengajaran kelas langsung yang menggunakan siaran televisi. Program
ini diluncurkan di Meksiko pada tahun 1968 sebagai strategi cost-effective
untuk mengembangkan pendidikan sekolah menengah di komunitas kecil dan jauh.
Di Asia, 44 radio dan TV universitas di Cina
(yang meliputi China Central Radio dan Television University), Universitas
Terbuka di Indonesia, dan Indira Ghandi National Open University menggunakan
radio dan televisi, baik untuk pengajaran langsung dan untuk siaran sekolah
untuk menjangkau populasi yang lebih besar. Berkaitan dengan institusi ini,
siaran disertai dengan materi cetak dan kaset audio.
General educational programming terdiri dari
berbagai tipe program(program baru, program dokumenter, quiz show, kartun
pendidikan, dan lain sebagainya) yang menyajikan kesempatan pendidikan
nonformal untuk semua tipe siswa. Dalam suatu pengertian, program radio atau
televisi dengan nilai infromasi dan pendidikan merupakan tipe grogram tersebut.
8.
Teleconferensi
Teleconferencing
mengacu pada komunikas interaktif elektronik antara dua orang di dua
tempat atau lebih yang berbeda. Berdasarkan sifat dan tingkat interaktif dan
keunggulan teknologi, ada empat tipe teleconferencing, yaitu 1)
audioconferencing; 2) audio-graphic conferencing, 3) videoconferencing;
dan 4) Web-based conferencing.
Audioconferencing melibatkan pertukaran pesan suara melalui
jaringan telepon. Teks dan image seperti grafik, diagram atau gambar dapat
ditukar dengan pesan suara, yang dinamakan audiographic conferenecing.
Videoconferencing menghasilkan petukaran tidak hanya suara dan grafik tetapi
juga menggerakkan image. Teknologi tidak hanya menggunakan jaringan telepon
tetapi juga jaringan satelit atau jaringan televisi (siaran/kabel).
Web-based conferencing melibatkan transmisi teks, dan grafik, radio dan media
visual melalui Internet; conferencing ini menggunakan komputer dengan browser
dan komunikasi berupa synchronous dan asynchronous.
Teleconferencing
digunakan dalam konteks pembelajaran formal dan non-formal untuk memudahkan
diskusi antara guru dan siswa, dan siswa dengan siswa, juga untuk mengakses
para ahli dan sumber-sumber lain dari jarak jauh. Dalam open and distance
learning, teleconferencing merupakan suatu alat yang bermanfaat untuk
memberikan pelajaran langsung. Jaringan audio-graphic teleconferencing
bertujuan untuk pendidikan yang berkelanjutan.
9. Pengajaran berbasis
computer dan internet
Belajar denga computer dan internet menggabungkan
belajar alat teknologi tersebut dengan belajar dengan teknologi
tersebut.Belajar dengan computer melibatkan pembelajaran keterampilan teknologi
“just-in-time” atau ketika siswa perlu mempelajarinya atau aktivitas terkait
dengan kurikulum. Misalnya, siswa sekolah lanjutna yang harus menyajikan laporan
tentang penggunaan ekspresi bahasa Inggris oleh pedangan kaki lima di daerah
wisata Senggigi dapat memulai dengan melakukan riset online, menggunakan
program spreadsheet dan database untuk membantu menyusun dan menganalisis data
yang telah mereka kumpulkan, dan menggunakan aplikasi word processing untuk
mempersiapkan laporan.
Banyak perguruan tinggi yang menawarkan proses
pendidikan jarak jauh menggunakan internet. Vistual University of Menterrey
Institute of Technology di Meksiko menggunakan kombinasi materi cetak dan
rekaman siaran langsung dan internet untuk menyampaikan materi pelajaran kepada
siswa si seluruh Meksiko dan di beberapa negara Amerika Latin.
Di University of the Philippines Open University
(UPOU), materi pelajaran masih didominasi materi cetak tetapi tutorial online
menggunakan alternative lain, yaitu face-to-face tutorials khususnya bagi
siswa-siswa yang enggan untuk dating ke pusat-pusat pembelajaran UPOU.
TIK dalam Kurikulum Pembelajaran
TIK dalam pembelajaran
dikenal dengan teknologi pendidikan, UNESCO secara resmi menggunakan istilah
ICT yang kemudian diadopsi kedalam bahasa Indonesia menjadi teknologi informasi
dan komunikasi atau TIK (Surjono, 2010). Khusus dalam bidang pendidikan,
menurut Bambang Sudibyo (2007), TIK dikemukakan dalam UU Sisdiknas No. 20/2003
pasal 35 ayat 1 dan pasal 40 standar sarana dan prasarana sekolah yang salah
satunya termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Demikian
juga dalam pemerataan dan perluasan akses pendidikan sesuai dengan Renstra
Pendidikan Nasional tahun 2005-2009, kegiatan prioritas pencapaian sasaran
disebutkan pemanfaatan TIK sebagai media pembelajaran jarak jauh. Selain itu
dalam rangka peningkatan mutu, relevansi dan daya saing maka diharapkan ada
penerapan TIK dalam pembelajaran.
Upaya implementas TIK yang
lebih konkret telah dilakukan melalui integrasi pembelajaran TIK dalam
kurikulum yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), dengan istilah TIK, sehingga TIKmerupakan mata pelajaran
wajib untuk diajarkan sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA)
dan sekolah kejuruan (SMK), dan sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah
dasar (SD).
Standar kompetensi mata
pelajaran TIK sebagaimana dituangkan KBK pada bagian tujuan dan fungsi: “Dengan
memasukkan Teknologi Informasi dan Komunikasi di dalam kurikulum sekolah, akan
membantu siswa untuk belajar teknologi informasi dan teknologi komunikasi, dan
menggunakan segala potensi yang ada untuk pengembanagan kemampuan diri.”
Pembelajaran TIK diharapkan mampu memberikan motivasi dan kesenangan pada
peserta didik untuk belajar dan bekerja secara mandiri, selain meningkatkan
proses pembelajaran pada semua tingkatan dan jenjang, dengan menjangkau semua
disiplin ilmu mata pelajaran lain. Tujuan pemberian TIK adalah agar peserta
didik memahami alat teknologi informasi dan
komunikasi secara umum termasuk komputer (computer literate) dan memahami informasi (information literate). Siswa difasilitasi mampu mengenal
istilah-istilah yang digunakan pada teknologi informasi dan komunikasi dan pada
computer yang umum digunakan.Selain itu, siswa menyadari keunggulan computer
dan keterbatasan komputer, serta dapat menggunakan secara optimal.
Secara khusus KBK
menggariskan pemberian TIK pada siswa adalah:
· Menyadarkan siswa akan
potensi teknologi informasi dan komunikasi yang terus berubah sehingga siswa
termotivasi untuk mengevaluasi dan mempelajari teknologi informasi dan
komunikasi sebagai dasar untuk belajar sepanjang hayat.
· Memotivasi kemampuan siswa
untuk mampu beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi, sehingga siswa dapat melaksanakan dan menjalani aktivitas kehidupan
sehari-hari secara mandiri dan lebih percaya diri.
· Mengembangkan kompetensi
siswa dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung
kegiatan belajar, bekerja, dan berbagai aktivitas dalam aspek kehidupan
sehari-hari.
· Mengembangkan kemampuan
belajar berbasis teknologi informasi dan komunikasi, sehingga proses
pembelajaran lebih optimal, dan terampil dalam berkomunikasi, mengorganisasi
informasi, belajar, dan bekerja sama.
· Mengembangkan kemampuan
belajar mandiri, berinisiatif, inovatif, kreatif, bertanggung jawab dalam
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk pembelajaran, bekerja, dan
pemecahan masalah.
Pemberlakuan KTSP sebagai
bagian penyempurnaan KBK, mata pelajaran TIK tetap dipertahanan sebagai mata
pelajaran wajib di SMP dan SMA, dan sebagai muatan lokal di SD. Meskipun
demikian, terdapat pengurangan dalam hal materi (missal tentang database dan
pemrogram) sehingga berkurang pula kompetensi dasar yang dicapai. Dalam KTSP
dimasukkan materi ilmu komputer berbasis Linux dan program open source lainnya.
Kurikulum TIK tidak menyebut nama produk perangkat lunak, misalnya materi
pengolah kata tidak menyebut Microsoft word, sehingga sekolah menggunakan openoffice writer, dan lain-lain. Salah
satu materi menarik adalah etika dalam menggunakan teknologi informasi dan UU
Hak Cipta.
Sebagaimana panduan standar
kompetensi Kurikulum 2004 (KBK) dan 2006 (KTSP), amata pelajaran TIK merupakan
salah satu fasilitas untuk meghasilkan siswa yang berkompeten. Maksudnya, siswa
tidak hanya mampu merespon tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, desentralisasi, dan hak asasi manusia, tapi juga mampu menggali,
menyeleksi, mengolah, dan menginformasikan bahan kajian yang telah diperoleh
meskipun telah menyelesaian pendidikannya. Dengan demikian, siswa memiliki
bekal berupa potensi untuk belajar sepanjang hayat serta mampu menyelesaikan
yang dihadapinya.
Implementasi TIK dalam
pembelajaran dilakukan semata-mata menjawab tantangan global dan pengaruh globalisasi semakin
terasa dengan kian banyaknya saluran informasi dalam berbagai bentuk seperti
elektronik maupun nonelektronik seperti surat kabar, majalah, radio. TV,
telepon, fax, komputer, internet, satelit komunikasi dan sebagainya.Teknologi
komunikasi dan informasi yang terus berkembang cenderung mempengaruhi segenap
bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan kejuruan dan pelatihan yang terus
diwarnai oleh oleh teknologi komunikasi dan informasi. Secara khusus untuk
pendidikan dan pelatihan akan dirasakan adanya kecenderungan: (a) bergesernya
pendidikan dan pelatihan dari sistem berorientasi pada guru/dosen/lembaga ke
sistem yang berorientasi pada siswa/mahasiswa/peserta didik; (b) tumbuh dan
makin memasyarakatnya pendidikan terbuka/jarak jauh; (c) semakin banyaknya
pilihan sumber belajar yang tersedia; (d) diperlukannya standar kualitas global
dalam rangka persaingan global dan (e) semakin diperlukannya pendidikan
sepanjang hayat (lifelong learning).
Dengan kondisi perkembangan
teknologi informasi saat ini yang semakin berkembangmemungkinkan setiap
individu untuk belajar dan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari mana
saja, kapan saja, dan di mana saja.Dalam dunia pendidikan, perkembangan
teknologi informasi mulai dirasa mempunyai dampak dan memperlihatkan perubahan
yang cukup signifikan.Saat sekarang ini jarak dan waktu bukanlah sebagai
masalah yang berarti untuk mendapatkan ilmu yang ingin dipelajari, berbagai
aplikasi tercipta untuk memfasilitasinya.
Salah satu wadah yang
dirasa paling berperan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi di
Indonesia saat ini adalah internet.Di Indonesia terutama yang berada di
kota-kota besar sudah banyak masyarakat yang mempunyai akses internet, sehingga
pemanfaatan internet sebagai salah satu media pembelajaran dan pencarian
informasi dan pengetahuan dapat lebih maksimal walaupun akses internet di
Indonesia belum sepenuhnya dapat dirasakan semua orang.
Kehadiran internet memungkinkan siswa memiliki kases
yang luas terhadap ilmu pengetahuan, informasi dan komunikasi. Mereka dapat
memperoleh informasi apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Mereka juga dapat berinteraksi dan
berkomunikasi dengan siapa saja, terlebih dengan menjamurnya berbagai bentuk
media social berbasis internet. Keadaan ini menggeser peran
guru dari pemberi
informasi atau sumber informasi
menjadi manajer pembelajaran yang memfasilitasi proses
pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat belajar dan berkembang secara
optimal, terutama mengembangkan potensi-potensi inti yang dibutuhkan bagi
kehidupan mereka diera informasi saat ini yaitu kemampuan berpikir kritis,
kreatif, mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, berkolaborasi dan bekerja
sama serta mampu memanfaatkan TIK secara bijaksana.
Informasi melalui media internet, bisa menjadi salah
satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia mempunyai standar yang
sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media internet, pemerintah dan
institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola belajar yang cukup efektif
untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki kendala dengan jarak dan waktu
untuk mendapatkan informasi terutama informasi dalam dunia pendidikan. Salah
satu metode yang mulai diterapkan yaitu pembelajaran distance learning.
Metode distance learning merupakan suatu metode
alternatif dalam pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan. Sistem ini
diharapkan dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat
keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Metode distance learning sangat
membantu siswa atau masyarakat dalam mempelajari hal-hal atau ilmu-ilmu baru
dengan tampilan yang lebih menarik dan mudah untuk dipahami. Dalam pengaksesan
dan pemanfaatan metode ini, peran internet sangatlah diperlukan, karena melalui
internet seseorang dapat mengirim file atau meng-upload file yang ingin dipublikasikan dan melalui
internet juga seseorang dapat mengakses file yang ingin dicari. Selain
metode distance
learning, masih banyak metode-metode lain yang sangat membantu
dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, diantaranya dengan adanya modul-modul
pembelajaran gratis yang tersedia, portal pembelajaran online, dan lain-lain.
Manfaat lain yang dapat
diperoleh melalui implementasi TIK dalam pendidikan diantaranya: (1) informasi
yang dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan
pendidikan; (2) konsultasi dengan pakar, konsultasi dangan para ahli
dibidangnya dapat dilakukan dengan mudah walaupun ahli tersebut berada ditempat
yang sangat jauh; (3) perpustakaan online, perpusatakaan online adalah
perpustakaan dalam bentuk digital; (4) diskusi online. Diskusi online adalah
diskusi yang dilakukan melalui internet; (5) inovasi dalam pembelajaran semakin
berkembang dengan adanya inovasi e-learning yang semakin memudahkan proses
pendidikan; (6) kemajuan TIK juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau
kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan sang
pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan; (7) sistem administrasi
pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem
TIK.
Sementara itu dampak
negative implementasi TIK diantaranya: (1) kemajuan TIK juga akan semakin
mempermudah terjadinya pelanggaran terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI) karena semakin mudahnya mengakses data menyebabkan orang yang bersifat
plagiatis akan melakukan kecurangan; (2) walaupun sistem administrasi suatu
lembaga pendidikan bagaikan sebuah system tanpa celah, akan tetapi jika terjadi
suatu kecerobohan dalam menjalankan sistem tersebut akan berakibat fatal; (3)
salah satu dampak negatif televisi adalah melatih anak untuk berpikir pendek
dan bertahan berkonsentrasi dalam waktu yang singkat (short span of attention); (4) kemajuan TIK yang salah satunya mendorong produksi beragam
aplikasi media sosial yang yang sangat mudah diakses siswa memungkinkan mereka
menjadi pelaku penyalahgunaan atau korban penyalahgunaan TIK, yang seringkali
berakibat fatal bagi pembentukan karakter, pertumbuhan dan perkembangan mental
termasuk kehidupan siswa.
Untuk dapat memanfaatkan
TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan
yaitu:
1.
Siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi
digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru.
2.
Harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan
dukungan kultural bagi siswa dan guru.
3.
Guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam
menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar
mencapai standar akademik.
Isu dan Masalah Implementasi TIK dalam Bidang
Pendidikan
Upaya yang dilakukan
pemerintah sehubungan dengan implementasi TIK pada dasarnya telah dirancang cukup
baik, akan tetapi implementasinya masih belum maksimal. Dalam hal integrasi TIK
dalam KBK dan KTSP yang berarti TIK harus diajarkan pada siswa berdampak pada
konsekuensi ketersediaan sarana
prasarana pembelajaran berupa laboratorium komputer dan infrastruktur yang
memadai di setiap sekolah termasuk tenaga pengajar kompeten. Dalam
penerapannya, kemampuan pemerintah dan sekolah menyediakan sarana prasarana dan
infrastruktur pendukung pembelajaran TIK belum merata. Keterbatasan
infrastruktur khususnya di daerah-daerah terpencil dan pinggiran sangat
dirasakan, bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki perangkat komputer
sama sekali. Hal ini berdampak pula pada terbatasnya kesempatan siswa di
daerah-daerah tersebut dalam menikmati akses informasi, demikian pula terhadap
kemampuan sekolah mengembangkan jaringan komunikasi, kerja sama pendidikan,
serta pengolahan data layanan pendidikan yang diberikan pada masyarakat.
Permasalahan lain yang dihadapi selain keterbatasan infrastruktur adalah faktor
guru yang belum memiliki kualifikasi dan kompetensi memadai. Faktor
infrastruktur dan guru disinyalir sebagai penyebab utama kurangnya efektivitas
pembelajaran TIK dan tidak maksimalnya pencapaian tujuan pembelajaran TIK di
sekolah.
Faktor lainnya adalah beberapa
buku pelajaran TIK yang tersedia di BSE jenjang SMP dan SMA, menyajikan materi
yang belum sesuai dengan tujuan pembelajaran TIK itu sendiri.Isi buku berisi
hanya menggunakan sistem operasi dan software tertentu yang terkenal dan
komersil.Buku lebih nampak sebagai buku tutorial atau buku panduan suatu
software/sistem operasi tertentu bukan sebagai buku pelajaran, sehingga
pembelajaran TIK tidak lebih dari tutorial penggunaan penggunaan TIK merk
tertentu.Sebagai suatu mata pelajaran, materi TIK seharusnya jauh lebih luas
dan tidak sempit atau terbatas pada pengenalan merk tertentu. Hal ini berarti,
Depdiknas sudah menanamkan dogma kepada siswa bahwa tidak ada software lain
selain yang terdapat dalam buku pelajaran yang dirujuk. Permasalahan lainnya
yang muncul adalah ketika siswa berupaya mempelajari materi sebagaimana buku,
akan memaksa mereka menggunakan software yang diajaran dalam buku tersebut.
Artinya jika mereka tidak memiliki software tersebut, mereka harus
membelinya.Secara ekonomi, tidak semua anak mampu membeli software yang
diajarkan, tidak jarang banyak anak atau orang tua yang kemudian membeli
software bajakan.
Dalam Kurikulum 2013, mata
pelajaran TIK ditiadakan dari struktur kurikulum.Apabila dikaitkan dengan
materi Etika dan HAKI atau pengenalan tentang lisensi pernagkat lunak dan
jenis-jensinya, maka materi ini kehilangan wadah penyampaian pada siswa.Disatu
sisi, materi ini sangat penting megingat siswa hidup diera teknologi informasi
yang menghadapkan mereka pada pemakaian teknologi informasi dan komunikasi disamping
tidak terbatasnya informasi beserta sumber informasi yang tidak mungkin
dihindari siswa.Sekolah merupakan tempat terbaik bagi pendidikan tentang etika
menggunakan TIK, lisensi software, dan mengenal berbagai aplikasi selain
proprietary software.Selain itu, tidak ada lagi ruang bagi siswa untuk
mempelajari berbagai aplikasi FOSS.
Bertitik tolak dari Kepres
No 32 Tahun 2011 tentang Master Plan Percepatan Perluasan Ekonomi Indonesia
(MP3EI), yang ditujukan untuk mendorong terwjudnya pertumbuhan ekonomi yang
tinggi, berimbang, berkeadilan, dan berkelanjutan, dimana salah satu dari tiga
strategi utama pelaksanaannya adalah peningkatan kemampuan SDM dan IPTEK
Nasional. Penekanan untuk meningkatkan kapasitas SDM dan Iptek SDM yang
berkemampuan tinggi akan mendorong terjadinya inovasi. Hal ini merupakan kata
kunci untuk menghadapi era globalisasi yang ditandai dengan persaingan ketat
dan arus informasi yang pesat dalam semua sektor, sehingga negara
dituntut untuk memiliki daya saing yang kuat agar mampu mensejajarkan diri
dengan negara-negara lain. Untuk menwujudkan program pemerintah mencapai Visi
Indonesia 2025 dan 2045 dengan menitikberatkan kepada pembinaan karakter
generasi muda saat ini dan implementasi teknologi informasi dalam proses pembelajaran,
ada baiknya jika materi TIK dipertahankan untuk diberikan pada jenjang
pendidikan dasar dan memengah. Hal ini sejalan dengan Buku Putih TIK Indonesia
2025-2045 yang merumuskan kerangka pengembangan SD TIK Indonesia hingga kurun
waktu 2025 mendatang.
Pemberian TIK tentu harus
lebih mengacu pada kompetensi dasar dan tujuan yang ingin dicapai, yaitu dengan
melakukan penguatan fondasi terkait pembelajaran TIK sebagai dimuat dalam Surat
Terbuka Onno W Purba kepada Mendikbud, meliputi:
1. TIK dikembangkan untuk
menunjang transformasi seluruh sekolah menjadi e-learning/e-school.
2. Mengubah materi TIK menjadi
penunjang eksplorasi pengetahuan siswa. Keterampilan menggunakan computer yang
selama ini dikembangkan pada pembelajaran TIK terdahulu dikembangkan dan diubah
menjadi keterampilan mengeksplorasi pengetahuan seperti simulasi berbagai
bidang ilmu, akse ke e-library, on=line, earning menggunakan moodle, dan
lain-lain. Dengan kondisi yang ada di sekolah terutama yang berada di daerah,
tidak mungkin mengandalkan guru mata pelajaran reguler untuk membantu
eksplorasi pengetahuan berbasis TIK. Sehingga perispan dan pemberdayaan sumber
daya pendidik berkompetensi juga menjadi sebuah keharusan.
3. Pemberdayaan guru TIK yang
merupakan asset penting yang mendukung pembelajaran eksplorasi pengetahuan dan
e-learning berbasis open-sources dan proses transformasi sekolah menjadi
e-school. Pengembangan modul sekolah berbasis TIK dan training of trainers serta studi lanjut bagi guru TIK perlu
dilakukan.
Yang perlu dijadikan titik
tolak pembelajaran TIK sebagaimana mata pelajaran lain adalah karakter.
Karakter yang kuatlah yang mampu membentengi siswa dari penyalahgunaan TIK
demikian pula melindungi mereka dari penyalahgunaan TIK oleh orang/pihak lain
yang saat ini marak dilakukan oleh berbagai kalangan dan dari dari berbagai
generasi, seperti cyber bullying,
kejahatan di dunia maya (cyber cryme),
plagiarism, dan lain-lain.Selain itu, kapasitas siswa berpikir kritis sangat
penting dikembangkan sehingga setiap anak memiliki kemampuan mengolah
informasi, melakukan analisis, memvalidasi, mengevaluasi dan mengkomunikasikan
kembali dengan menggunakan sumber-sumber yang ada secara kreatif untuk mencapai
kualitas diri dan kehidupan yang lebih baik.
Kesimpulan dan Saran
Tuntutan
pembelajaran dimasa yang akan datang harus bersifat terbuka dan dua arah,
beragam, multi-disipliner serta terkait pada
produktifitas kerja “saat itu juga” dan kompetitif. Teknologi informasi dan
telekomunikasi dengan murah dan mudah akan menghilangkan batasan-batasan
ruang dan waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan dewasa ini
banyak dampak-dampak yang terjadi akibat semakin berkembangnya IT didalam
negeri ini. Memang perkembangan IT jika disikapi secara positif mampu
memberikan dampak yang positif dan apabila disikapi secara negatif dapat
memberikan dampak negatif pula.
Dunia
internet misalnya, merupakan sebuah perpustakaan maya terbesar di dunia. hampir
semua yang ingin kita cari ada di internet. Informasi melalui media internet,
bisa menjadi salah satu kunci untuk membuat dunia pendidikan di Indonesia
mempunyai standar yang sama dengan negara lain. Dengan menggunakan media
internet, pemerintah dan institusi pendidikan sudah mulai menerapkan pola
belajar yang cukup efektif untuk diterapkan bagi masyarakat yang memiliki
kendala dengan jarak dan waktu untuk mendapatkan informasi terutama informasi
dalam dunia pendidikan. Salah satu metode yang mulai diterapkan yaitu
pembelajaran distance learning.
Metode distance learning merupakan
suatu metode alternatif dalam pemerataan kesempatan dalam bidang pendidikan.
Sistem ini diharapkan dapat mengatasi beberapa masalah yang ditimbulkan akibat
keterbatasan tenaga pengajar yang berkualitas. Metode distance learning sangat
membantu siswa atau masyarakat dalam mempelajari hal-hal atau ilmu-ilmu baru
dengan tampilan yang lebih menarik dan mudah untuk dipahami.
Beberapa
saran yang dapat dikemukakan untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan
pendidikan berbasis TIK sebagai berikut.
1.
Pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi (TIK) dalam pendidikan baik di sekolah atau perguruan tinggi menjadi
hal mutlak mengingat kondisi permasalahan pendidikan yang makin kompleks. Pendidikan berbasis TIK
hanya akan berhasil apabila dikelola dan ditangani dengan terencana, sistematis
dan terintegrasi.
2. Perencanaan dalam
pemanfaatan TIK dalam pendidikan yang integratif meliputi kebijakan,
standarisasi mutu, infrastruktur jaringan dan konten, kesiapan dan kultur SDM
pendidikan menjadi penting untuk ditata dan dikelola dengan efektif dan
efisien.
3. Penyelenggaraan pendidikan
berbasis TIK melalui pendidikan terbuka dan jarak jauh (e-Learning),
membutuhkan dukungan dari semua pihak khususnya pemerintah, swasta serta
masyarakat untuk mengalokasikan anggaran dan investasi pendidikan yang memadai.
4. Standarisasi mutu
penyelenggaran pendidikan berbasis TIK perlu ditindaklanjuti dengan
standarisasi konten untuk menjamin kualitas, aksesibilitas dan akuntabilitas
program pendidikan berbasis TIK
Daftar Pustaka
Munir.(2008). Dampak Teknologi Informasi dan Komunikasi Dalam Pendidikan.
Bandung, Penerbit: Universitas Pendidikan Indonesia.
Masugiyono.2012. Peranan
Informasi Informasi dalam Pendidikan.diakses tanggal 13 Februari 2017.
“Surat Cinta” untuk menteri
pendidikan terkait penghapusan mata pelajaran TIK.http://id.techinasia.com/surat-cinta-untuk-menteri-terkait-penghapusan-mata-pelajaran-tik/ diakses pada 13 Februari
2017.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar